Hai semuanya!
Hari ini aku akan membagikan untuk bahan referensi dalam pembuatan makalah Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan "OLAHRAGA PENCAK SILAT" . Setiap sekolah punya rentang nilainya masing-masing, tapi gak ada salahnya kan untuk share data-data di leptopku yang sudah membludak ini huhu.
[Teliti ulanglah data, kaji lagi, siapa tau ada yang salah]
jangan lupa, di daftar pustaka tambahkan link blog aku wkwk
TUGAS MAKALAH PENDIDIKAN JASMANI,
OLAH RAGA, DAN KESEHATAN
“OLAHRAGA PENCAK SILAT”
DIBUAT OLEH :
KHUSNITA AZIZAH (19)
Kelas
X MIA 6
SMA NEGERI 1 KALIANDA
Alamat Jln. Kol Makmum Rasyid No.149 Kalianda , Kab
Lampung Selatan , Lampung, Telepon/fax (0727) 322152
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Rahman, atas segala
rahmatnya yang telah diberikan kepada hambanya sehingga makalah “Olahrag Pencak
Silat” ini dapat tersusun hingga selesai.
Tidak lupa kami berterimakah kepada semua pihak yang ikut mensupport
penyusunan makalah ini, baik dukungan moriel maupun materiel.
Besar harapan, semoga makalah ilmiah ini dapat menambah pengetahuan para
pembaca sehingga bisa di implementasikan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, saya menyadarai masih
banyak kekurangan dari makalah ilmiah ini. Oleh karen itu, saya sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi
kesempurnaaan makalah ini.
Sidomulyo,
13 Mei 2018
Khusnita
Azizah
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.................................................................................................. i
DAFTAR
ISI............................................................................................................. .......... ii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................................ 1
A. Latar
Belakang................................................................................................. 1
B. Rumusan
Masalah............................................................................................. 1
C. Tujuan............................................................................................................ .......... 2
BAB
II PEMBAHASAN............................................................................................... 3
A. Pengertian
Pencak Silat..................................................................................... 3
B. Sejarah
Pencak Silat........................................................................................... 3
C. Unsur
- Unsur dalam Olahraga Pencak Silat........................................................6
D. Istilah
- Istilah dalam Olahraga Pencak Silat........................................................ 6
E. Gelanggang
dan Perlengkapan dalam Olahraga Pencak Silat................................. 7
F. Gerakan/Teknik
dalam Pencak
Silat.................................................................... 8
G. Nilai
Positif Adanya Pencak Silat...................................................................... 13
H. Jenis Organisasi Pencak Silat di Tingkat
Nasional maupun Internasional............... 13
BAB
III
PENUTUP..................................................................................................... 14
A. Kesimpulan...................................................................................................... 14
B. Saran................................................................................................................ 14
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................................. 15
CATATAN.................................................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pencak silat merupakan warisan budaya bangsa Indonesia
yang sudah tumbuh dan berkembang ke manca negara. Walau sejarah tidak bisa
menunjukkan secara pasti kapan lahirnya pencak silat, namun pencak silat sudah
lahir di bumi pertiwi sejak peradaban manusia. Sejak jaman pra sejarah sudah
lahir ilmu beladiri yang sederhana guna
mempertahankan hidup dari ganasnya alam.
Pada jaman kerajaan-kerajaan beladiri berkembang
sebagai alat berkuasa, baik mempertahankan kerajaannya maupun untuk menyerang
lawan. Tahun 1019-1041 istilah pencak silat mulai muncul sejak kerajaan
Kahuripan dengan nama “Eh Hok Hik”. Pada jaman penjajahan peran pencak silat
sangat besar dalam membantu pertahanan negara untuk mengusir penjajah.
Pertumbuhan dan perkembangan pencak silat pada jaman
kemerdekaan amat pesat, dengan terbentuknya wadah organisasi Ikatan Pencak
Silat Indonesia (IPSI) tahun 1948. Pada tanggal 11 Maret 1980 IPSI didukung
tiga negara Malaysia, Singapura, dan Brunai Darusalam membentuk Federasi Pencak
Silat Internasional disebut PERSILAT (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa),
dan tahun 1987 untuk pertama kali pencak silat secara resmi masuk Sea Games
XIV. Keberhasilan pencak silat menjadi cabang olahraga di Sea Games, memacu PB
IPSI untuk melakukan eksibisi di Asian Games XIV Busan Korea Selatan. Tidak
hanya berhenti disitu saja pencak silat telah mengadakan Kejuaraan Dunia ke-11
kali, dan perkembangan terakhir anggota PERSILAT mencapai 46 negara yang
tersebar di benua Asia, Eropa, Australia, dan Amerika.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah terbentuk dan berkembangnya olahraga
pencak silat ?
2.
Apa itu pencak silat ?
3.
Apa saja yang termasuk unsur-unsur dalam olahraga
pencak silat ?
4.
Apa istilah-istilah yang sering digunakan dalam
olahraga pencak silat ?
5.
Bagaimana gelanggang dalam olahraga pencak silat ?
6.
Apa saja perlengkapan yang dibutuhkan dalam olahraga
pencak silat ?
7.
Bagaimana gerakan dan teknik dalam olahraga pencak
silat ?
C. Tujuan
1.
Memberikan wawasan yang lebih luas
tentang pencak silat untuk penulis dan pembaca.
2.
Dapat menjadikan makalah ini sebagai
referensi dalam pembelajaran tentang materi pencak silat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pencak Silat
Pengertian
pencak silat menurut IPSI adalah hasil budi daya manusia Indonesia untuk
membela dan mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritas
(kemanunggalan) terhadap lingkungan alam dan sekitarnya untuk mencapai
keselarasan hidup dalam meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
B. Sejarah Pencak Silat
Sejarah Nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki cara
pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya
atau kelompoknya dari tantangan alam. Mereka menciptakan bela diri dengan
menirukan gerakan binatang yang ada di alam sekitarnya, seperti gerakan kera, harimau, ular, atau burung elang. Asal mula ilmu bela diri di
nusantara ini kemungkinan juga berkembang dari keterampilan suku-suku asli
Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan
tombak, misalnya seperti dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.
Silat diperkirakan
menyebar di kepulauan
nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya
belum dapat ditentukan secara pasti. Kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya dan Majapahit disebutkan memiliki pendekar-pendekar
besar yang menguasai ilmu bela diri dan dapat menghimpun prajurit-prajurit yang
kemahirannya dalam pembelaan diri dapat diandalkan. Peneliti silat Donald F. Draeger berpendapat bahwa bukti adanya seni
bela diri bisa dilihat dari berbagai artefak senjata yang ditemukan dari masa
klasik (Hindu-Budha) serta pada pahatan relief-relief yang berisikan
sikap-sikap kuda-kuda silat di candi Prambanan dan Borobudur. Dalam bukunya, Draeger menuliskan
bahwa senjata dan seni beladiri silat adalah tak terpisahkan, bukan hanya dalam
olah tubuh saja, melainkan juga pada hubungan spiritual yang terkait erat
dengan kebudayaan Indonesia. Sementara itu Sheikh Shamsuddin (2005) berpendapat
bahwa terdapat pengaruh ilmu bela diri dari Cina dan India dalam silat. Hal ini karena sejak
awal kebudayaan Melayu telah mendapat pengaruh dari kebudayaan yang dibawa oleh
pedagang maupun perantau dari India, Cina, dan mancanegara lainnya.
Pencak silat telah dikenal
oleh sebagian besar masyarakat rumpun Melayu dalam berbagai nama. Di semenanjung Malaysia dan Singapura, silat lebih dikenal dengan nama
alirannya yaitu gayong dan cekak. Di Thailand, pencak silat
dikenal dengan nama bersilat,
dan di Filipina selatan dikenal dengan nama pasilat. Dari namanya, dapat diketahui bahwa istilah
"silat" paling banyak menyebar luas, sehingga diduga bahwa bela diri
ini menyebar dari Sumatera ke berbagai kawasan di rantau Asia Tenggara.
Tradisi silat diturunkan
secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid,
sehingga catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Sejarah
silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain.
Legenda Minangkabau, silat (bahasa
Minangkabau: silek)
diciptakan oleh Datuk Suri Diraja dari Pariangan,
Tanah Datar di kaki Gunung Marapi pada abad ke-11. Kemudian silek dibawa dan dikembangkan oleh
para perantau Minang ke seluruh Asia Tenggara. Demikian pula cerita rakyat mengenai
asal mula silat aliran Cimande, yang mengisahkan seorang perempuan yang
mencontoh gerakan pertarungan antara harimau dan monyet. Setiap daerah umumnya
memiliki tokoh persilatan (pendekar)
yang dibanggakan, misalnya Prabu Siliwangi sebagai tokoh pencak silat Sunda
Pajajaran, Hang Tuah panglima Malaka, Gajah Mada mahapatih Majapahit dan Si Pitung dari Betawi.
Perkembangan silat secara
historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum
penyebar agama Islam pada abad ke-14 di nusantara. Kala itu pencak silat
diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau atau pesantren. Silat
menjadi bagian dari latihan spiritual. Dalam budaya beberapa suku bangsa di
Indonesia, pencak silat merupakan bagian tak terpisahkan dalam upacara adatnya.
Misalnya kesenian tari Randai yang tak lain adalah gerakan silek Minangkabau kerap ditampilkan
dalam berbagai perhelatan dan acara adat Minangkabau. Dalam prosesi pernikahan
adat Betawi terdapat tradisi "palang
pintu", yaitu peragaan silat Betawi yang dikemas dalam sebuah sandiwara
kecil. Acara ini biasanya digelar sebelum akad nikah, yaitu sebuah drama kecil
yang menceritakan rombongan pengantin pria dalam perjalanannya menuju rumah
pengantin wanita dihadang oleh jawara (pendekar) kampung setempat yang
dikisahkan juga menaruh hati kepada pengantin wanita. Maka terjadilah
pertarungan silat di tengah jalan antara jawara-jawara penghadang dengan
pendekar-pendekar pengiring pengantin pria yang tentu saja dimenangkan oleh
para pengawal pengantin pria.
Silat lalu berkembang dari
ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara
untuk menghadapi penjajah asing. Dalam sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, tercatat para pendekar yang
mengangkat senjata, seperti Panembahan
Senopati, Sultan Agung, Pangeran
Diponegoro, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Imam Bonjol, serta para pendekar wanita, seperti
Sabai Nan Aluih, Cut Nyak
Dhien, dan Cut Nyak Meutia.
Silat saat ini telah
diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas, yaitu
para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung
Malaka, serta
berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua
franca bahasa Melayu
di berbagai daerah di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lain-lainnya yang
juga mengembangkan beladiri ini.
Menyadari pentingnya
mengembangkan peranan pencak silat maka dirasa perlu adanya organisasi pencak
silat yang bersifat nasional, yang dapat pula mengikat aliran-aliran pencak
silat di seluruh Indonesia. Pada tanggal 18 Mei 1948, terbentuklah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kini IPSI tercatat sebagai organisasi silat
nasional tertua di dunia.
Pada 11 Maret 1980,
Persatuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) didirikan atas prakarsa Eddie M.
Nalapraya (Indonesia), yang saat itu menjabat ketua IPSI. Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari
Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Keempat negara itu termasuk Indonesia, ditetapkan sebagai pendiri Persilat.
Beberapa organisasi silat
nasional antara lain adalah Ikatan
Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS)
di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei
Darussalam (PERSIB) di Brunei. Telah tumbuh pula puluhan
perguruan-perguruan silat di Amerika Serikat dan Eropa. Silat kini telah secara
resmi masuk sebagai cabang olahraga dalam pertandingan internasional, khususnya
dipertandingkan dalam SEA Games.
C. Unsur- Unsur dalam Olahraga Pencak Silat
Unsur-unsur yang terdapat dalam pencak silat adalah sebagai berikut.
1.
Olahraga
2.
Kesenian
3.
Bela diri
4.
Pendidikan mental kerohanian.
5.
Persaudaraan menuju persatuan.
D. Istilah – Istilah dalam Olahraga Pencak Silat
1.
Kuda-kuda: adalah posisi menapak kaki untuk
memperkukuh posisi tubuh. Kuda-kuda yang kuat dan kukuh penting untuk
mempertahankan posisi tubuh agar tidak mudah dijatuhkan. Kuda-kuda juga penting
untuk menahan dorongan atau menjadi dasar titik tolak serangan (tendangan atau
pukulan).
2.
Sikap dan Gerak: Pencak silat ialah sistem yang
terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang
pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti
perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan
pertahanan lawan, maka pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu
serangan yang cepat.
3.
Langkah: Ciri khas dari Silat adalah
penggunaan langkah. Langkah ini penting di dalam permainan silat yang baik dan
benar. Ada beberapa pola langkah yang dikenali, contohnya langkah tiga dan
langkah empat.
4.
Kembangan: adalah gerakan tangan dan sikap
tubuh yang dilakukan sambil memperhatikan, mewaspadai gerak-gerik musuh,
sekaligus mengintai celah pertahanan musuh. Kembangan utama biasanya dilakukan
pada awal laga dan dapat bersifat mengantisipasi serangan atau mengelabui
musuh. Seringkali gerakan kembangan silat menyerupai tarian atau dalam maenpo
Sunda menyerupai ngibing (berjoget). Kembangan adalah salah satu bagian
penilaian utama dalam seni pencak silat yang mengutamakan keindahan gerakan.
5.
Buah: Pencak Silat memiliki macam yang
banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Secara tradisional istilah teknik
ini dapat disamakan dengan buah. Pesilat biasa menggunakan tangan, siku,
lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk
tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan
tulang sendi, dan lain-lain.
6.
Jurus: pesilat berlatih dengan
jurus-jurus. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan
bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan teknik-teknik
lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau
berpasangan. Penggunaan langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan
penggunaan pengaturan kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran
seluruh tubuh.
7.
Sapuan dan Guntingan: adalah salah satu jenis buah
(teknik) menjatuhkan musuh dengan menyerang kuda-kuda musuh, yakni menendang
dengan menyapu atau menjepit (menggunting) kaki musuh, sehingga musuh
kehilangan keseimbangan dan jatuh.
8.
Kuncian: adalah teknik untuk melumpuhkan
lawan agar tidak berdaya, tidak dapat bergerak, atau untuk melucuti senjata mu.
E.
Gelanggang dan Perlengkapan dalam Pertandingan Pencak
Silat
1.
. Perlengkapan Gelanggang Pencak Silat
1.1
Gelanggang dapat di lantai dan dilapisi matras setebal
5 cm, ukuran 10 m x 10 m warna dasar hijau terang dan garis putih setebal 5 cm,
bidang berbentuk lingkaran diameter 8 m, lingkaran tengah diameter 3 m.
1.2
Meja dan kursi pertandingan.
1.3
Meja dan kursi wasit.
1.4
Formulir pertandingan dan alat tulis.
1.5
Jam pertandingan, gong, dan bel.
1.6
Lampu babak.
1.7
lampu isyarat berwarna merah,biru, dan kuning.
1.8
Bendera kecil berwarna merah dan biru.
1.9
Timbangan
1.10
Lain-lain sesuai perlengkapan yang dibutuhkan.
2.
Perlengkapan Bertanding Pencak Silat
2.1
Pakaian, menggunakan pakaian pencak silat warna hitam
sabuk putih, badge IPSI di sebelah kiri.
2.2
Perlindungan badan (body protector) warna
hitam sesuai standar IPSI.
2.3
Pesilat putra menggunakan pelindung kemaluan (genetile
protector).
2.4
Gum shil
2.5
Perlindungan sendi.
F. Gerakan/Teknik dalam Pencak Silat
1.
Sikap Kuda-kuda
Sikap berdiri kuda-kuda adalah adalah sikap dasar
dengan posisi kaki tertentu sebagai dasar tumpuan untuk melakukan sikap dan
gerakan bela serang. Latihan ini dilakukan dengan sikap tegak dan dua kepalan
tangan di pinggang. Sikap ini terdiri dari sebagai berikut.
1.1 Kuda-kuda
depan yaitu dari posisi berdiri kuda-kuda salah satu kaki ditarik ke depan
dengan lutut tetap ditekuk, sedangkan kaki lainnya di belakang dan berat badan
bertumpu di kaki depan.
1.2 Kuda-kuda
belakang yaitu dari posisi berdiri kuda-kuda salah satu kaki berada di depan,
sedangkan kaki lainnya berada di belakang dan berat badan bertumpu di kaki
belakang.
1.3 Kuda-kuda
tengah yaitu sikap kedua kaki melebar sejajar dengan bahu dan berat badan
ditopang secara merata oleh kedua kaki, dapat juga dilakukan dengan posisi
serong.
1.4 Kuda-kuda
samping yaitu kuda-kuda dengan posisi kedua kaki melebar sejajar dengan tubuh
dan berat badan bertumpu di salah satu kaki yang menekuk ke kiri dan ke kanan.
1.5 Kuda-kuda
silang depan dan silang belakang yaitu dari posisi sikap berdiri kuda-kuda
tarik salah satu kaki secara serong ke depan kanan atau kiri, atau ke arah
belakang kanan atau kiri.
2.
Sikap Pasang
Sikap pasang adalah suatu sikap siaga untuk melakukan
pembelaan atau serangan yang berpola dan dilakukan pada awal serta akhir
rangkaian gerakan. Sikap pasang mempunyai unsur-unsur sebagai berikut.
Ø
Sikap kuda-kuda
Ø
Sikap tubuh
Ø
Sikap tangan
Sikap pasang merupakan hal yang penting dalam permainan dan
pertandingan pencak silat. Sikap pasang terdiri dari sebagai berikut.
Ø
Sikap pasang atas
Ø
Sikap pasang tengah
Ø
Sikap pasang bawah
Cara melaukan sikap pasang sebagai berikut
1.
Pandangan lurus ke depan.
2.
Kaki dibuka agak lebar, salah satu kaki depan, dan
kedua lutut ditekuk. Hal tersebut ditujukan untuk mendapatkan posisi tubuh yang
stabil dan kuat.
3.
Berat badan terletak pada kaki belakang
4.
Posisi kedua tangan melakukan sikap pasang di depan
dada.
3.
Sikap Tangkisan
3.1
Tangkisan Atas
Salah satu tangan membentuk tinju, posisi tangan
berada di depan antara ubun-ubun dan kening, dengan tujuan memberi tangkisan
yang dilakukan dari bawah ke atas untuk melindungi kepala dari serangan lawan
3.2
Tangkisan Belah Tengah
Tangkisan belah tengah dilaukan dengan kedua lengan
dan mengarahkan ke luar.
3.3
Tangkisan Silang Atas / Jepit Atas
Tangkisan yang menggunakan kedua lengan yang menyilang
dengan perkenaannya sudut persilangan lengan, arahnya dari atas ke bawah dan
sebaliknya.
3.4
Tangkisan Luar
Tangkisan luar dilakukan dengan membuang ke arah luar.
3.5
Tangkisan Bawah
Tangkisan ini dilakukan dengan membuang arah ke
luar.
4.
Hindaran dalam Pencak Silat
4.1 Hindaran
Hadap
Menghindar dengan memindahkan kaki sehingga posisi
tubuh menghadap lawan.
4.2 Hindaran
Sisi
Menghindar dengan memindahkan kaki sehingga posisi
tubuh menyamping lawan.
5.
Pukulan dalam Pencak Silat
Pengertian pukulan dalam pencak silat adalah
serangan yang dilakukan menggunakan tangan kosong sebagai komponennya. Pada
prinsipnya segala teknik pukulan yang terdapat dalam pencak silat boleh
digunakan untuk menyerang bagian-bagian tubuh lawan yang disahkan untuk
diserang dalam upaya memperoleh angka.
6.
Tendangan dalam Pencak Silat
6.1 Tendangan
Sabit
Tedangan sabit dilakukan
dalam lintasan setengah lingkaran. Bagian yang dikenakan yaitu bagian punggung
telapak kaki atau pangkal jari telapak kaki dengan sasaran seluruh bagian
tubuh.
6.2 Tendangan Lurus
Tendangan lurus yaitu tendangan yang menggunakan ujung kaki
dengan tungkai lurus.Tendangan ini mengarah ke depan pada sasaran dengan
meluruskan tungkai sampai ujung kaki. Bagian kaki yang kena saat menendang
adalah pangkal bagian dalam jari-jari kaki. Posisi badan menghadap ke sasaran.
6.3 Tendangan T
Tendangan T
hampir sama dengan tendangan lurus, yaitu menggunakan sebelah kaki dan tungkai. Lintasannya lurus ke
depan dan perkenaannya pada tumit, telapak kaki, dan sisi luar telapak kaki.
Tendangan ini biasanya digunakan untuk serangan samping dengan sasaran seluruh
bagian tubuh.
G. Nilai Positif Adanya Pencak Silat
Beberapa nilai positif yang diperoleh dalam olahraga beladiri pencak silat
adalah:
1.
Kesehatan
dan kebugaran
2.
Membangkitkan
rasa percaya diri
3.
Melatih
ketahanan mental
4.
Mengembangkan
kewaspadaan diri yang tinggi
5.
Membina
sportifitas dan jiwa ksatria
6.
Disiplin dan
keuletan yang lebih tinggi
H. Jenis Organisasi Pencak Silat di
Tingkat Nasional maupun Internasional
1.
PERSILAT :
Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa
2.
IPSI :
Ikatan Pencak Silat Indonesia
3.
FP2STI :
Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia
4.
PESAKA
Malaysia : Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia
5.
PERSISI :
Persekutuan Silat Singapore
6.
EPSF :
European Pencak Silat Federation
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pencak silat
adalah adalah suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia.
Seni bela diri ini secara luas lebih dikenal di negara-negara Asia maupun
Eropa. Terbukti dari banyaknya organisasi-organisasi pencak silat yang tumbuh
dengan pesat, seperti: PERSILAT di
Indonesia, IPSI, PESAKA di Malaysia.
Berkembangnya
seni pencak silat tidak terlepas dari sejarah awal mulanya berdiri pencak
silat. Berawal dari nenek moyang bangsa Indonesia yang berusaha untuk
mempertahankan dirinya dari ancaman dan tantangan alam, Kerajaan-kerajaan besar
yang memiliki prajurit dan pendekar-pendekar yang siap berperang, Pahlawan
nasional bangsa Indonesia, seperti pangeran Diponegoro yang melawan penjajah,
sampai pada akhirnya bela diri berkembang seiring berkembangnya jaman.
B.
Saran
Pencak silat
merupakan salah satu warisan yang patut untuk terus dijaga dan dikembangkan.
Melalui serangkaian proses perputaran zaman sampai pada akhirnya pencak silat
menjadi hak paten sebagai cabang olahraga yang diakui baik dari nasional
maupuan internasional. Maka sudah sepatutnya pencak silat harus terus dijaga,
dilestarikan, dan dikembangkan.
DAFTAR
PUSTAKA
CATATAN
....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................